Renungan Ketika Bencana Menerpa


Disarikan dari transkrip khutbah Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr حفظه الله yang berjudul وقفات مع فيضانات تسونامي في إندونيسيا 


Indonesia adalah negeri yang tidak asing dengan berbagai peristiwa alam. Gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir, kebakaran hutan dan lahan, serta berbagai bencana lainnya dapat terjadi dan memberikan dampak yang besar bagi kehidupan manusia. Khutbah ini beliau sampaikan pad 11 Dzulqa'dah 1425 H [1] namun masih sangat relevan hingga saat ini.

Ketika peristiwa semacam ini terjadi, kita tentu perlu memperhatikan informasi, memahami risiko, mengikuti arahan pihak yang berwenang, serta melakukan berbagai langkah keselamatan dan mitigasi. Namun, bagi seorang Muslim, peristiwa besar seperti ini juga merupakan saat untuk berhenti sejenak dan mengambil pelajaran.

Kita tidak hanya bertanya tentang bagaimana sebuah bencana terjadi atau apa yang harus dilakukan setelahnya. Kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri: apa yang seharusnya kita pelajari dari peristiwa ini?


Pertama, Kejadian ini akan membimbing seorang muslim menuju kepada sesuatu yang telah dia yakini, maka keyakinan itu pun semakin kuat. Yaitu keyakinan bahwa Dia lah Allah yang mengatur alam semesta, Dia menentukan segala sesuatu, dan tidak ada yang bisa menolak ketentuannya.

Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di alam semesta seharusnya semakin meneguhkan keimanan kita terhadap kesempurnaan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Gunung yang tampak kokoh dapat mengalami erupsi. Bumi yang setiap hari kita pijak dapat berguncang. Laut yang tampak tenang dapat berubah dalam waktu singkat. Air yang menjadi sumber kehidupan dapat meluap dan membawa kerusakan. Semua itu mengingatkan kita bahwa seluruh alam semesta berada dalam kekuasaan dan pengaturan Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلۡ هُوَ ٱلۡقَادِرُ عَلَىٰۤ أَن یَبۡعَثَ عَلَیۡكُمۡ عَذَابࣰا مِّن فَوۡقِكُمۡ أَوۡ مِن تَحۡتِ أَرۡجُلِكُمۡ أَوۡ یَلۡبِسَكُمۡ شِیَعࣰا وَیُذِیقَ بَعۡضَكُم بَأۡسَ بَعۡضٍۗ ٱنظُرۡ كَیۡفَ نُصَرِّفُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لَعَلَّهُمۡ یَفۡقَهُونَ

“Katakanlah, "Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kalian dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kalian keganasan sebagian yang lain.” Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya).” [QS. Al-An'am: 65]

Peristiwa-peristiwa besar semacam ini seharusnya menambah keimanan seorang Muslim terhadap sempurnanya kekuasaan Allah dan bahwa Dia-lah yang mengatur alam semesta sesuai dengan kehendak-Nya.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika turun ayat (Dia lah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian, dari atas kalian), Rasulullah ﷺ berdoa, “Aku berlindung dengan wajah-Mu”, ketika sampai pada ayat (atau dari bawah kaki kalian), beliau berdoa, “Aku berlindung dengan wajah-Mu”, dan ketika sampai pada ayat (atau Dia mencampurkan kalian dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kalian keganasan sebagian yang lain), beliau bersabda, “Ini lebih ringan, ini lebih mudah.” [2]

Kemudian seorang muslim harus mengetahui bahwa semua kejadian itu merupakan tanda kebesaran Allah, agar semua hamba-Nya takut. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, 

وَمَا نُرۡسِلُ بِٱلۡـَٔایَـٰتِ إِلَّا تَخۡوِیفࣰا

“Dan Kami tidak mengirim tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” [QS. Al-Isra: 59]

Qatadah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah menakut-nakuti manusia dengan tanda-tanda kebesaran-Nya agar mereka mau mengambil pelajaran, selalu mengingat, dan kembali kepada Allah.” Seorang muslim harus berfikir bahwa Dzat yang telah mengirim bencana besar itu mampu untuk menimpakannya bencana yang serupa atau bahkan lebih besar.


Kedua, Dengan adanya bencana alam seperti gempa bumi, seseorang akan ingat betapa besar kenikmatan yang selama ini Allah berikan kepadanya, yaitu kenikmatan dijadikannya bumi itu tenang, tak ada gempa di setiap saat. Karena kalau selalu terjadi gempa bumi, maka bagaimana kita bisa hidup? Bagaimana kita bisa tidur? Dan bagaimana pula kita bisa bekerja?

Apapun bentuk bencana yang menimpa, seorang muslim harus tahu bahwa itu semua merupakan peringatan dari Allah akan kenikmatan yang selama ini dia rasakan. Karena sangat banyak sekali kenikmatan yang dilupakan oleh kebanyakan manusia. Itulah contoh ungkapan “Kita tidak akan tahu rasa manis kalau kita tidak tahu rasa pahit."

Seorang Mukmin tidak seharusnya hanya menjadi penonton ketika melihat sebuah musibah menimpa orang lain. Ketika menyaksikan sebuah peristiwa besar, hati seorang Muslim seharusnya bergerak. Ia merenungkan apa yang terjadi, mengambil pelajaran, dan menyadari bahwa Allah yang berkuasa menimpakan musibah kepada sebagian manusia juga Mahakuasa untuk menimpakan hal serupa kepada siapa pun.

Karena itu, peristiwa yang terjadi pada orang lain seharusnya menjadi kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri sebelum kita sendiri menjadi pihak yang diuji. Bencana dan berbagai peristiwa besar di alam semesta merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang seharusnya membuat seorang Muslim lebih takut kepada-Nya, mengambil pelajaran, dan kembali kepada-Nya.

Sering kali manusia baru menyadari besarnya sebuah nikmat ketika nikmat tersebut terganggu. Kita berjalan di atas bumi yang tenang setiap hari. Kita tidur tanpa khawatir tanah di bawah kita berguncang. Kita menghirup udara dan menjalankan aktivitas sehari-hari dalam keadaan yang mungkin selama ini kita anggap biasa. Padahal, semua itu adalah nikmat Allah.

Ketika terjadi gempa, kita kembali menyadari betapa besar nikmat bumi yang tenang. Ketika terjadi erupsi dan abu vulkanik menyebar, kita kembali menyadari nikmat udara yang bersih. Ketika terjadi banjir atau tsunami, kita kembali menyadari nikmat ketika air tetap berada dalam batasnya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

ٱللَّهُ ٱلَّذِی جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ قَرَارࣰا

“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap ...” [QS. Ghafir: 64]

Prof. Abdurrazzaq al-Badr حفظه الله secara khusus mengajak kaum Muslimin untuk merenungkan nikmat bumi yang stabil dan tenang yang mungkin jarang disadari sebelum manusia menyaksikan bagaimana kehidupan berubah ketika bumi mulai berguncang. Maka musibah tidak hanya seharusnya membuat kita melihat apa yang telah hilang, tetapi juga membuat kita semakin menyadari begitu banyak nikmat yang masih Allah berikan.


Ketiga, Dengan adanya bencana, seorang muslim harus meningkatkan kesandarannya dalam menunaikan kewajibannya. Yaitu bertauhid kepada Allah, mentaati semua perintah-Nya, tunduk dan patuh kepada-Nya, mengikhlaskan semua bentuk ibadah hanya untuk-Nya, serta kewajiban lainnya yang harus dia tunaikan. Dia juga harus meningkatkan keimanan dan ketakwaanya. Rasulullah ﷺ  bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” [3]

Ketika menyaksikan bumi berguncang, gunung meletus, atau air melampaui batasnya, kita kembali diingatkan bahwa bumi ini bukan milik manusia. Bumi adalah milik Allah. Dialah yang menciptakannya, mengaturnya, dan melakukan apa yang Dia kehendaki di dalamnya. Lalu, apabila kita menyadari bahwa hidup kita berlangsung di atas bumi milik Allah, maka kita perlu kembali bertanya: "Untuk apa Allah menciptakan dan menempatkan kita di bumi ini?"

Seorang Muslim diciptakan untuk beribadah kepada Allah, mentauhidkan-Nya, menaati perintah-Nya, mengikuti syariat-Nya, dan tunduk kepada-Nya. Inilah salah satu renungan yang paling penting ketika musibah terjadi: jangan sampai kita sibuk membicarakan apa yang terjadi di sekitar kita, tetapi lupa memikirkan tujuan kehidupan kita sendiri.

Hendaknya kita merenungkan setiap peristiwa besar di bumi dengan kewajiban manusia untuk kembali kepada tujuan penciptaannya: mentauhidkan Allah, menaati-Nya, mengikuti syariat-Nya, dan tunduk kepada-Nya. Seorang muslim juga harus tahu bahwa penyebab musibah yang menimpanya adalah dosa. Dan musibah itu hanya bisa diangkat dengan bertaubat. ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَكُلًّا أَخَذۡنَا بِذَنۢبِهِ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya ...” [QS. Al-Ankabut: 40]

Setiap peristiwa besar seharusnya menjadi kesempatan untuk melakukan muhasabah. Apakah kita telah benar-benar mensyukuri nikmat Allah? Apakah kita telah menjalankan tujuan hidup kita? Apakah kita lebih mengingat Allah ketika berada dalam keadaan aman, atau hanya kembali kepada-Nya ketika menghadapi kesulitan?

Seorang Mukmin hendaknya menjadikan berbagai peristiwa yang dilihatnya sebagai dorongan untuk memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, meningkatkan ketaatan, serta semakin menyadari bahwa ia sangat membutuhkan pertolongan Allah.


Ketika Saudara Kita Tertimpa Musibah

Bagi mereka yang berada di tempat yang aman, keselamatan yang dirasakan seharusnya tidak membuat kita hanya bersyukur untuk diri sendiri. Ketika saudara-saudara kita kehilangan rumah, anggota keluarga, makanan, keamanan, atau berbagai kebutuhan lainnya, kita perlu menyadari bahwa keselamatan yang kita nikmati adalah nikmat Allah yang harus disyukuri.

Salah satu bentuk syukur tersebut adalah dengan memperhatikan mereka yang sedang mengalami kesulitan. Kita mendoakan mereka. Kita membantu sesuai kemampuan. Ada yang dapat membantu dengan tenaga, harta, keahlian, maupun bentuk bantuan lainnya.

Secara khusus kita diingatkan bahwa orang yang hidup dalam keadaan aman dan memiliki berbagai nikmat hendaknya bersyukur kepada Allah sekaligus membantu saudara-saudaranya yang terdampak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Adapun bagi orang yang tidak terkena bencana, dia harus bersyukur atas kenikmatan yang telah Allah berikan kepadanya, tidak tertimpa musibah sebagaimana yang dialami saudara-saudaranya. Kemudia dia juga harus membantu mereka dengan segala kemampuan yang dia miliki. Seperti mendoakan kebaikan untuk mereka, menyumbangkan harta, pakaian, makanan, minuman dan semisalnya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala  selalu memberikan penduduk negeri ini keimanan dan keamanan, keislaman dan keselamatan. Aamiin ya rabbal aalamiin.


Mengajarkan Bencana kepada Anak

Bagi orang tua dan pendidik, bencana juga dapat menjadi bagian dari pendidikan. Anak-anak tentu perlu diajarkan mengenai apa yang sedang terjadi dengan bahasa yang sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman mereka. Mereka perlu mengetahui langkah-langkah keselamatan, memahami mengapa harus mengikuti arahan orang tua dan pihak yang berwenang, serta belajar untuk bersikap tenang ketika menghadapi keadaan darurat.

Namun, pendidikan tentang bencana bagi seorang anak Muslim tidak berhenti pada aspek teknis. Peristiwa yang terjadi juga dapat menjadi kesempatan untuk mengajarkan mereka tentang tauhid.

Anak belajar bahwa alam semesta diciptakan dan berada dalam kekuasaan Allah. Anak belajar bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan pertolongan Allah. Anak belajar untuk bersyukur ketika berada dalam keadaan aman dan mendoakan saudara-saudaranya yang sedang mengalami kesulitan.

Tentu semua ini perlu disampaikan dengan cara yang sesuai dengan usia anak. Tujuannya bukan menakut-nakuti mereka, melainkan menumbuhkan pengenalan kepada Allah, rasa syukur, kepedulian, serta sikap yang benar ketika menghadapi berbagai keadaan dalam kehidupan.

Dengan demikian, ketika anak menyaksikan berita tentang gempa, erupsi, banjir, atau bencana lainnya, ia tidak hanya mengetahui bahwa sebuah peristiwa sedang terjadi. Ia juga mulai belajar bahwa:

  • Allah adalah Rabb yang Mahakuasa.
  • Kita sangat membutuhkan pertolongan Allah.
  • Keamanan dan keselamatan adalah nikmat yang harus disyukuri.
  • Ketika orang lain tertimpa musibah, kita mendoakan dan membantu mereka.
  • Kita tetap melakukan berbagai ikhtiar dan langkah keselamatan yang diperlukan.


Penutup

Bencana adalah bagian dari kehidupan yang tidak sepenuhnya dapat dikuasai oleh manusia. Kita tetap perlu belajar, memahami risiko, mengikuti perkembangan informasi, melakukan mitigasi, dan mengambil langkah-langkah keselamatan.

Namun, di atas seluruh ikhtiar tersebut, seorang Muslim menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah yang lemah dan senantiasa membutuhkan pertolongan-Nya. Ketika bencana terjadi, janganlah kita hanya sibuk melihat apa yang terjadi di luar diri kita. Mari juga melihat ke dalam diri kita sendiri. Mari mengambil pelajaran. Mari memperbaiki diri. Mari semakin bersyukur atas nikmat yang masih kita miliki. Dan mari membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan.

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan perlindungan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menjaga kita, anak-anak kita, keluarga kita, serta seluruh kaum Muslimin dari segala bentuk keburukan dan musibah.


والله أعلم

_________________

[1] Versi awal artiel ini pernah diterbutkn di Tauhid.or.id
[2] HR. Al-Bukhari
[3]  HR. Muslim